Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Ipa atau Ips?

Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa anak IPA adalah murid yang paling top di SMA, murid terpilih, paling pinter, paling cerdas, dalam kaitan relatif paling tinggi IQny . Tak sedikit juga yang menganggap bahwa anak IPS lah yang merupakan murid buangan,bodoh,bebal pola pikirnya, tak punya masa depan, cuma pelengkap, pelajar santai, urakan  . Semakin lama,opini diatas semakin menjadi suatu keyakinan. Apalagi banyak orang tua menginginkan anaknya ke IPA,sampai ada yang nangis segala. No...No...No... Itu salah besar . Karena ada hal yang lebih penting yang menjadi alasan dasar.
  1. Dari segi Materi Pelajaran. pada dasarnya nilai yang terkandung setiap mata pelajaran antara IPA dan IPS sama/sebanding,yang membedakan cuma nama. IPA punya Fisika,Biologi,Kimia dan IPS punya Ekonomi(+Akuntansi),Geografi,Sosiologi. Dalam spesialisasianya, pelajaran menghitung(penuh rumus) IPS punya Ekonomi(+Akuntansi),Geografi,namun IPA cuma ada Fisika dan Kimia. Menghapal, IPS punya Ekonomi dan Sosiologi, begitupun IPA hanya ada Biologi dan Kimia adanya. Dari hal itu,terlihat jelas materi kedua jurusan sebanding dan sama berat.
  2. Mengacu pada materi ujian. Saat Ujian Nasional SMA dan setingkatnya, prosentase kelulusan anak IPA lebih besar, itu benar. Eits, anak IPA jangan sombong dulu. Itu karena apa. Perbedaan soal ujian antara IPA dan IPS sangat mendasar, IPA punya soal yang konstan/stabil/tetap, soal ujiannya hampir sama bahkan sama persis dengan soal ujian sebelumnya,contohnya cuma diganti nama pelaku soal cerita. Itu memberikan peluang besar ingat dan hafal betul soal soal ujian. Beda dengan soal ujian IPS, soal ujian IPS bersifat labil, lebih banyak pembaruan materi soal, ini mengingat pelajaran IPS yang selalu mengikuti perkembangan dunia. Dengan itu, anak IPS harus berfikir dinamis mengikuti materi pelajaran. Itu perbedaan yang membuktikan kejeniusan pola pikir IPS yang lebih unggul.Apakah saudara masih berfikir IPA lebih unggul ?
  3. Setelah lulus jadi apa ?  Ditarik garis besar, anak IPA hanya punya kesempatan di beberapa bidang yang menjurus ke farmasi,kedokteran,komputer,itupun harus dilalui dengan kuliah untuk mempermudah. Anak IPS jangan tanya, peluangnya sangat banyak. Akuntan,perkantoran,kebidanan, STAN, hampir semua bisa dijamah tanpa kuliah, walaupun tak dapat pekerjaan atau kuliah,masih bisa membuat lapangan pekerjaan sendiri,toh sudah dibekali ilmu ekonomi. Semua itu menandakan peluang IPS lebih banyak dan memberi alasan mengapa kelas di IPS lebih banyak.
Atas beberapa alasan tersebut di atas, masihkah anda berfikir IPA yang terbaik, saya sarankan berfikirlah 100 x lagi. Berfikirlah yang lebih modern lagi. Ingat, IPA tak ada tanpa IPS,IPS juga tak ada tanpa IPA.


Menaikkan BBM, SBY Presiden Terbaik Indonesia



Tahun 1965 kondisi ekonomi Indonesia memburuk. APBN morat-marit. Kesejahteraan masyarakat memprihatinkan. Laju inflasi waktu itu mencapai 650%. Artinya jika situasi itu terjadi sekarang, tiba-tiba harga beras yang Rp.8.000/ Kg menjadi Rp.52.000/Kg.

Untuk mengatasi krisis, pada bulan Desember 1965 Soekarno mengumumkan kebijakan devaluasi nilai rupiah, yaitu Rp.1.000 uang lama menjadi Rp.1 uang baru. Devaluasi zaman Soekarno tidaklah sama maksudnya dengan wacana redenominasi yang diwacanakan sekarang. Devaluasi bukan saja nominal uang yang terpotong, tapi nilainya juga. Artinya kalau seseorang memiliki tabungan di bank 1 juta rupiah dan cukup untuk membeli seekor kambing. Maka setelah devaluasi uang itu tinggal 1000 rupiah. Dan uang yang 1 rupiah ini, untuk membeli ayam saja tidak cukup.

Kekacauan menjadi-jadi. Rakyat mengamuk. Bank-bank tutup. Orang kaya tiba-tiba menjadi miskin, golongan menengah menjadi lebih miskin lagi, yang memang sudah miskin menjadi teramat miskin. Di mana-mana orang depresi dan bunuh diri. Jangankan yang miskin, konglomeratpun bunuh diri. Bos Bank NISP yang sekarang, Karmaka Surjaudaja. Sebagai salah satu saksi hidup peristiwa ini sekaligus sebagai pelaku. Depresi kemudian mencoba bunuh diri karena kebijakan devaluasi Soekarno. Minum racun tapi nyawanya masih bisa selamat.

Tidak cukup sampai di sana. Pada bulan Januari 1966 Soekarno mengumumkan kenaikan harga BBM. Sebelumnya, Soekarno sudah 11 kali menaikkan harga BBM. Semua bertujuan untuk menyehatkan fiskal, menyelamatkan APBN. Pemuda, pelajar, mahasiswa menggelar aksi besar-besaran. Mereka serentak mengempeskan ban-ban mobil di jalan-jalan seluruh Jakarta. Lalu lintas macet total. Mereka menyerbu Istana Presiden, kantor-kantor kementerian dan lainnya.

Orde lama pimpinan Soekarno tamat. Berganti Ode Baru pimpinan Soeharto. APBN tetap sakit-sakitan. Untuk menyehatkannya Soeharto sedikitnya sampai 18 kali menaikkan harga BBM. Tidak cukup hanya menaikkan BBM. SDA Indonesia di lelang semurah-murahnya. Tambang emas, batu bara, minyak, dll. Sampai-sampai Soeharto rela hanya mendapat bagian royalti 1% dari tambang emas Freeport. Asal investor mau mengerjakannya.

Naikkan BBM, lelang SDA tidak cukup. Soeharto melangkah lebih jauh lagi. Menumpuk hutang beribu-ribu triliun. Soeharto membuat Indonesia menjadi nasabah empuk bagi IMF, ADB, Bank Dunia, dll. Saat itu hutang Indonesia menumpuk sampai 65% dari Pendapatan Domestik Brutu (PDB). Bandingkan dengan sekarang. Hutang Indonesia hanya tinggal 24% dari PDB. Pernah di saat masa-masa akhir Orde Baru, Indonesia mencari hutang luar negeri yang begitu besar. Tapi hutang tersebut hanya cukup untuk membayar hutang luar negeri berikut bunganya.

Selanjutnya era Megawati (Pemerintahan BJ Habibie dan Gusdur kita lewatkan saja karena terlalu singkat). APBN tetap sakit-sakitan. Megawati sampai dua kali menaikkan BBM untuk menyehatkannya. Tidak cukup juga hanya dengan menaikkan BBM. Megawati melelang apa yang bisa dilelang. Kekayaan alam seperti ladang gas Tangguh, dilelang ke China hanya denga harga USD 3/mmbtu yang seharusnya USD 16/mmbtu (kerugian negra ditaksir 30 triliun/tahun). Aset-aset negara dilelang. Indosat dan kapal tanker, BCA, Bank Danamon, BII, dll menjadi korban.

Sekarang kita hidup pada zaman SBY. Masih sama juga, APBN sakit-sakitan. Kemampuan fiskal pemerintah kembang kempis. Sampai 4 kali SBY menaikkan harga BBM untuk menyelamatkan APBN.

Ternyata masalah kenaikan BBM hanya masalah klasik yang berulang terus menerus sepanjang sejarah Indonesia. Bukan hal yang istimewa. Hanya saja dari fakta-fakta di atas. Nampak cara SBY jauh lebih baik dalam mengatasinya. Kenaikan BBM tidak perlu ditambah dengan cara ‘merampas’ uang rakyat seperti kebijakan devaluasi ala Soekarno. Tidak perlu menggadai kekayaan alam dan menambah hutang besar-besaran ala Soeharto. Tidak perlu menggadai kekayaan alam dan melelang aset ala Megawati. Dalam hal ini ternyata SBY-lah yang terbaik. Atau kalau keberatan mengatakan yang terbaik, taruhlah SBY bukan yang terburuk diantara presiden-presiden yang buruk itu.

SBY juga sudah berhasil membuat perekonomian Indonesia lebih kuat. Lebih kuat dari zaman Soeharto apalagi zaman Soekarno. Ekonomi yang dibangun Soekarno jelas-jelas gagal. Ekonomi yang dibangun Soeharto ternyata rapuh. Podasinya tidak kuat, bertumpu pada hutang luar negeri dan segelintir konglomerat. Hanya karena krisis ekonomi Asia 1997, ekonomi yang dibangun Soeharto ambruk.

Sedangkan ekonomi yang dibangun SBY sangat kuat dan spektakuler. Dihantam krisis dunia 2008 yang jauh lebih dahsyat dari krisis Asia 1997, masih bisa bertahan. Bukan saja bertahan tapi tetap tumbuh positif (hanya 3 negara di dunia ini yang berhasil menahan laju pertumbuhan ekonominya setelah krisis 2008, yaitu China, India dan Indonesia). Bahkan SBY berhasil membawa Indonesia menjadi negara anggota G-20. 20 negara yang menguasai 90% perekonomian dunia. Singapura dan Malaysia, jangankan masuk G-20, bermimpi saja mereka tidak berani.

Suasembada pangan Soeharto juga semu. Sistem pertanian, perkebunan, dan perikanan yang dibangun Soeharto lemah. Jauh dari standar industri. Maka Indonesia tidak pernah memiliki sawah modern. Meski makanan pokok rakyat indonesia adalah nasi. Maka Indonesia tidak pernah memiliki perkebunan buah-buahan bersekala modern. Meski Indonesia merupakan negara tropis. Maka Indonesia tidak pernah memiliki tambak garam canggih sekalipun, meski Indonesia memiliki garis pantai yang luar biasa panjang.

Yang ada hanya perkebunan-perkebunan modern peninggalan Belanda. Perkebunan yang dibuat atas kepentingan Belanda. Perkebunan teh, karet, kopi, coklat dan sejenisnya. Di penghujung zaman SBY inilah kebutuhan rakyat Indonesia yang sebenarnya mulai diperhatikan. Sawah modern dicetak di Kalimantan. Kebun buah-buahan modern digalakkan. Peternakan sapi besar-besaran dengan metode modern mulai dirintis. Tambak garam dipermodern dengan gerakan membranasi, dan lain-lain.

Apakah SBY presiden yang sudah ideal? Tidak. Masih banyak kekurangan. Terlalu banyak sesuatu yang seharusnya dikerjakan tapi tidak dikerjakan. Pemerataan ekonomi masih menjadi masalah. Tapi saya hanya mengajak kita relistis, tidak tutup mata atas keberhasilan SBY. Tidak menghujat dan menghina SBY secara berlebihan. Seolah-olah SBY setan yang entah datangnya darimana. Apalagi disaat bersamaan kita menyanjung presiden-presiden masa lalu yang seolah-olah jauh lebih berprestasi. Sedangkan SBY tidak ada prestasi apa-apanya.

Setiap generasi hidup pada masanya sendiri. Soekarno misalnya. Terlihat hebat karena hidup pada zaman perang kemerdekaan. Belum tentu akan hebat jika dia memimpin pada masa sekarang. Bayangkan, seandainya Soekarno menjadi presiden sekarang. Mungkin Indonesia sudah dibawa bangkrut, terkucil, dan terbelakang seperti Korea Utara dan Venezuela.

Atau sebaliknya. Seandainya SBY hidup pada masa perjuangan kemerdekaan. Mungkin Indonesia membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk merdeka. Dengan sikapnya yang peragu, lamban, penuh pertimbangan, dan sopan santun tingkat tinggi. Akan menjadi kelemahan yang sangat fatal bagi Indonesia saat itu.

Begitu juga Soeharto. Jika dia menjadi presiden pada masa informasi dan teknologi seperti sekarang ini. Mungkin nasibnya akan sama dengan Presiden Tunisia, Mesir, Libya dan diktator-diktator lainnya. Atau paling tidak dia akan membuat Indonesia perang saudara seperti Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Soekarno mungkin pemimpin terbaik pada zamannya. Begitu juga Soeharto. Silahkan pemimpin yang sekarang dikritisi tapi jangan dihina berlebihan. Seperti kelakuan sekumpulan “generasi sakit” yaitu para komentator detik..com, Kaskus dan sejenisnya, yang hanya bisa mencemooh, menghina dan menghujat.

Biarlah orang tua menyanjung-nyanjung masa lalu. Mereka sudah tua, ingatan mereka lemah, wajar melupakan penderitaan. Kita generasi muda, hidup pada zaman online. Tidak boleh hanya sekedar mengandalkan ingatan. Ingatan kadang menipu, ingatan kadang menjebak kita pada romantisme masa lalu. Tugas kita mencari pemimpin masa depan, tidak baik hidup hanya diisi dongeng-dongeng kemakmuran masa lalu. Yang sebenarnya hanya perasaan. Yang sebenarnya memang hanya dongeng.

sumber

Fenomena Pergaulan Bebas di Yogyakarta


Indonesia saat ini mengalami perkembangan intensif. Globalisasi berdampak pada negeri yang lebih terbuka menerima teknologi maupun ide-ide dan perubahan budaya baru. Setelah habisnya masa Orde Baru pada tahun 1998, globalisasi disatukan dengan kekuasaan perubahan yang sangat kuat, yaitu gerakan reformasi. Kemajuan pada tahun-tahun berikutnya makin nyata diperlihatkan dalam bidang pemerintahan, industri, pendidikan, dan sosial.
Dewasa ini, industri seks di Yogyakarta tetap berkembang, dengan beberapa daerah prostitusi yang terkenal seperti Pasar Kembang di kawasan Malioboro. Tak luar biasa untuk pria mengunjungi lokaliasasi baik pra maupun luar nikah di daerah tersebut. Seks itu sudah lama didasarkan dalam hidden culture atau kebudayaan tersembunyi. Walaupun begitu, akhir-akhir ini menunjukkan bahwa perlakuan masyarakat terhadap soal seks sudah mulai berubah. Penduduk Indonesia sudah terbukti mulai melakukan hubungan seks pada umur yang masih relatif muda.
Tidak mengherankan bahwa perubahan sosial dominan antara kaum pelajar dan mahasiswa atau remaja. Masa remaja adalah periode yang penuh dengan perubahan tubuh maupun perubahan mental, berusia remaja menemukan kesempatan untuk mencoba hal yang baru. Saat ini para remaja sangat dipengaruhi oleh oleh media massa, termasuk internet, film, dan musik. Secara umum kaum remaja lebih terbuka menerima ide-ide baru, dan lebih intensif mempergunakan kemajuan teknologi untuk mencari informasi daripada melakukan pendekatan terhadap orangtuanya.
Sesuatu yang penting dikebudayaan remaja adalah gengsi. Fokusnya gengsi untuk remaja indonesia adalah meniru kebudayaan kebarat-baratan, seperti perkembangan fashion atau dalam perpakaian, style atau gaya kehidupan, dan lain-lain. Sayangnya, ide-ide dan dan pengertian kebudayaan Barat maupun pengertian masalah seks yang diambil dari media massa sering keliru, dan besar kemungkinan kaum remaja akan melakukan hal yang beresiko. Dimanapun masalah seks berkaitan dengan banyak masalah sosial, termasuk Penyakit Menular Seksual (PMS), HIV/AIDS, perilaku seksual berisiko, kehamilan pra atau di luar nikah, dan kekerasan seksual.
Yogyakarta yang tepatnya adalah sebagai kota pelajar dan mahasiswa dan memiliki status pemerintahan yang khusus, dinamakan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sampai saat ini memiliki tradisi kebudayaan yang sangat kuat. Kota Yogyakarta dianggap sebagai kota yang ’aman’, tetapi Yogyakarta mempunyai sesuatu lain yaitu, kebudayaan masa muda yang bersemangat. Selain kota mahasiswa, Yogyakarta mempunyai banyak perguruan tinggi.

Solusi Untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan Bebas
Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setiap orang mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering ‘didengungkan’ tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Selain daripada solusi di atas masih banyak solusi lainnya. Solusi-solusi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki cara pandang dengan mencoba bersikap optimis dan hidup dalam “kenyataan”, maksudnya sebaiknya remaja dididik dari kecil agar tidak memiliki angan-angan yang tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga apabila remaja mendapatkan kekecewaan mereka akan mampu menanggapinya dengan positif.
2. Menjaga keseimbangan pola hidup. Yaitu perlunya remaja belajar disiplin dengan mengelola waktu, emosi, energi serta pikiran dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam kegiatan sehari-hari serta mengisi waktu luang dengan kegiatan positif
3. Jujur pada diri sendiri. Yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu ingin yang terbaik untuk diri masing-masing. Sehingga pergaulan bebas tersebut dapat dihindari. Jadi dengan ini remaja tidak menganiaya emosi dan diri mereka sendiri.
4. Memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain sehingga terbina hubungan baik dengan masyarakat, untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif dapat kita mulai dengan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekeliling kita.
5. Perlunya remaja berpikir untuk masa depan. Jarangnya remaja memikirkan masa depan. Seandainya tiap remaja mampu menanamkan pertanyaan “Apa yang akan terjadi pada diri saya nanti jika saya lalai dalam menyusun langkah untuk menjadi individu yang lebih baik?” kemudian hal itu diiringi dengan tindakan-tindakan positif untuk kemajuan diri para remaja. Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang untuk melakukan hal-hal menyimpang dan akan berkurangnya jumlah remaja yang terkena HIV & AIDS nantinya.

YOU ARE YOUR INDONESIA = KAMU ADALAH INDONESIAMU!





Kembali ke Jaman Pembodohan.
Sadarkah Anda bahwa cara Anda mengkritik Indonesia itu adalah salah? Secara tidak sadar, Anda telah mendukung gerakan pembodohan bangsa. Ini tahun 2012, bung! Bukan jaman jahiliyah. Mungkin Anda bertanya-tanya, apa yang salah dari cara Anda mengkritik Indonesia? Saksikan!

DEMONSTRASI


Tak sadarkah Anda bahwa demonstrasi yang kebanyakan dilakukan oleh mahasiswa itu sangat merugikan? Jelas! Merugikan diri sendiri dan orang lain! Bukankah tugas Anda sebagai mahasiswa adalah belajar, atau setidaknya mendapatkan gelar pendidikan yang bisa Anda gunakan untuk mencari kerja? Setelah mendapatkan pekerjaan yang layak, Anda dapat berpartisipasi memajukan Indonesia, dengan meningkatkan pendapatan nasional bahkan devisa negara. Sadarkah?

Pembakaran Ban bisa menghasilkan polusi yang berasal dari kabut beracun yang sangat rentan dihirup oleh anak-anak. Ratusan polutan beracun yang berasal dari pembakaran ban dan berbentuk partikel-partikel kecil bisa mengendap dalam paru-paru anak-anak.

Anak-anak, Janin, Ibu Menyusui, Orang Lanjut Usia, Penderita Asma, semuanya lebih muda diserang oleh polusi yang dihasilkan oleh pembakaran ban. Partikel-partikel kecil yang dilepaskan oleh pembakaran ban akan memperburuk asma dan turut menyebabkan pada penyakit hati.

Penemuan bahwa partikel halus dari pembakaran ban menyebabkan lebih banyak kematian dan opname untuk penyakit hati dan kanker. Penelitian ini dilakukan oleh American Academy of Pediatrics Committee on Environmental Health.
Saat Anda melakukan demonstrasi, tidak berpikirkah Anda bahwa Anda telah menghambat aktivitas Indonesia? Kemacetan yang disebabkan oleh para demonstran akan menghambat orang-orang yang akan pergi bekerja mencari nafkah. Bukankah aksi para demonstran ini justru menyebabkan matinya perekonomian Indonesia selama sekejap?
Seringkali masyarakat Indonesia menuntut perbaikan fasilitas umum. Namun, cara menyampaikan aspirasinya pun dengan merusak fasilitas umum. Ironis bukan?
Bodohnya lagi! Aksi demonstrasi diwarnai pembakaran diri seorang demonstran. Saya tidak mengerti apa yang ada di dalam otaknya. Mungkin Ia pikir dengan membakar diri, akan ada perubahan berarti terhadap Indonesia. TIDAK SAMA SEKALI! Perubahan atas Indonesia yang lebih baik dapat terwujud cukup dengan lakukan yang terbaik atas yang Anda lakukan, bukan dengan cara konyol, apalagi menyebabkan kematian.
Status kita sebagai mahasiswa pastinya adalah status awal yang direstui orang tua. Karenajarang ada orang tua yang menyekolahkan anaknya dengan niat agar anaknya menjadi aktifisyang pada tingkat akhirnya akan senasib seperti Pahlawan Ampera Arif Rahman Hakim. Tapi jika kita masih tetap ngotot dan lebih berat ke arah aktifis sebagai jalan untuk membela ketidakadilan, maka pilihan sebagai anak bangsa yang rela berkorban jiwa dan raga adalah tepat. Walaupun jika memang benar demikian adanya, tentunya untuk menjadi seorang anak bangsa yang baik bisa juga dilakukan dengan menjadi lulusan terbaik dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang akhirnya bisa mengurangi pengangguran serta menampung orang-orang yang tidak mendapat keadilan.

PENCURIAN BUDAYA

Dewasa ini, budaya Indonesia kerap kali diakui oleh negara lain, sebut saja Malaysia. Pertanyaan yang muncul adalah, sebelum budaya Indonesia seperti Reog Ponorogo, Batik, Wayang, dan beberapa lagu daerah dicuri, sudahkah Anda menjaga budaya tersebut agar tidak dicuri? Sudahkah Anda menggunakan dan melestarikannya selama budaya tersebut belum dicuri? Ataukah Anda hanya ikut-ikutan memprotes dan membesarkan mulut Anda ketika budaya tersebut sudah dicuri negara lain?

Tak pernahkah Anda terpikir bahwa budaya Indonesia yang diakui negara lain sudah sepantasnya untuk diakui negara lain karena negara tersebut merasa lebih mampu untuk menjaga dan melestarikan budaya Indonesia? Jangan terlalu banyak bicara! Mengapa sebelum budaya tersebut diakui negara lain Anda hanya diam saja, tidak ikut melestarikannya. Jika sudah begini, mulut Anda berbicara paling besar, seakan Anda adalah orang yang paling besar berandil dalam pelestarian budaya Indonesia. Mari sama-sama introspeksi diri.

MOSI TIDAK PERCAYA KEPADA PEMERINTAH



Sudah pantaskah Indonesia memberikan kenyamanan kepada Anda, jika Anda sendiri tidak memberikan apapun terhadap kemajuan Indonesia? Indonesia butuh dukungan rakyatnya, bukan makian dari rakyatnya. Mari kita tengok potongan-potongan tragedi mengenaskan berikut.
Tidakkah Anda berpikir bahwa sebenarnya pelajar-pelajar yang belum mengerti dengan sempurna tentang kebijakan-kebijakan pemerintah ini dijadikan alat untuk beberapa pihak untuk menyampaikan aspirasi atas kepentingan mereka? Bukankah seharusnya pelajar sebelia itu sedang melakukan kegiatan pembelajaran pada saat itu? Namun, mengapa membuang waktu untuk berpanas-panasan melakukan demostrasi? Tahu apa mereka atas kenaikan BBM?
Di satu sisi, banyak sekali pelajar yang bolos sekolah. Ini merupakan bentuk nyata perlakuan masyarakat Indonesia. Hanya bisa menuntut, tanpa memberikan feedback untuk Indonesia. 
Pikirkanlah sekali lagi. Peran pemerintah untuk membawa Indonesia menuju negara yang lebih baik sangat membutuhkan dukungan dari rakyat Indonesia itu sendiri. Bukan malah melakukan mosi tidak percaya terhadap pemerintah. Segala kebijakan pemerintah Anda anggap salah dan merugikan. Sebagai contoh. Naiknya BBM disebabkan oleh pengurangan subsidi atas bahan bakar. Pengurangan subsidi ini bertujuan untuk menaikkan kualitas pendidikan. Subsidi atas bahan bakar dialihkan ke subsidi pendidikan. Menurut saya secara pribadi, kebijakan pemerintah memberlakukan kenaikan BBM adalah tepat. Logikanya, masyarakat Indonesia yang memiliki kendaraan roda empat, seharusnya mampu untuk membeli bahan bakar non-subsidi. Kenaikan harga BBM dari Rp 4.500 ke Rp 6.000 itu tidak sebanding dengan harga mobil Anda yang berkisar 100 juta rupiah per unitnya, bahkan lebih. Bahan bakar bersubsidi pada hakikatnya diperuntukkan untuk masyarakat menengah ke bawah. Apakah Anda tidak malu menggunakan bahan bakar bersubsidi yang sebenarnya ditujukan untuk rakyat kecil?
Jika boleh membandingkan, apakah Anda pernah keberatan untuk membeli rokok seharga Rp 10.000 per bungkus? Namun, untuk membeli bahan bakar sebesar Rp 6.000 saja, Anda mengeluarkan segenap kekuatan Anda untuk menolaknya. Dimana sebenarnya keadilan negara ini, keadilan yang selama ini Anda tuntut kepada pemerintah? Anda mengeluarkan otot Anda untuk memperjuangkan keadilan, tapi di satu sisi Anda bersikap tidak adil terhadap diri Anda sendiri.



Sumber : Kaskus.co.id