Tampilkan postingan dengan label KKN PPM GK 14. Tampilkan semua postingan

Sekilas KKN GK 14 di Minggu awal


KKN Unit GK 14 ada di dusun Banyu Meneng ,di Kabupaten Gunungkidul.Letakknya sih di kecamatan Panggang dan apesnya disini tidak ada koneksi men,gak ada koneksi(jur gak bisa hidup tanpa koneksi coy,apes men).Kita ada 23 anggota id dalam Unit,ane sendiri ada di Sub Unit 2 didesa Banyumeneng.Ada 3 lelaki gila dan 5 cewek narsis.Ya nasib memang gak tau bro...yoweslah dilakoni wae..
KKN memang wajib sih buat mahasiswa,khusunya di UGM.Ya bisa dibilang semacam tradisi tiap tahunnya,kita KKN entah kemana dan dengan kultur yang berbeda dengan kultur di tempat kita biasa berada.Sebelumnya pengen ane ceritain nih tentang KKN ane,Alhamdulillah gak jauh-jauh banget,paling sekitar 35 KM dari jogja (itu jauh goblok).
Kebetulan dapet KKN di Kabupaten Gunung Kelud eh salah Gunung Kidul,Kecamatannya Panggang,Desanya namanya Banyumeneng.Desanya sih indah tapi minim air sob...aje gile hemat-hemat air nih kayaknya.
Ceritanya gini ane dapat di sub unit 2 di desa banyu meneng...lumayanlah tempatnya adem bener sobb....mungkin hanya rokok yang bisa menemani hangatnya malam dan membayangkan wajahnya(welah sp je..hahaha).Kalau makan alhamdulillah masih bisa walau ala kadarnya.....tempat tidur????wah 1 kamar ber3 ndes....sial sempit plus yo ngono kaelah...
Oh iyo lali cuk eh sob...tadi berangkat dari jogja naek bis..P.Onya dwi putra tp plat nomere lali aku,lha ra penting.Setelah 1,5 jam perjalanan lewat jalan pintas akhirnya sampai juga di kecamatannya,kita nunggu lama nih dari jam 2 sampe jam 3an gituhh...Wah kok wes ngantuk yo...yowes besok nyambung meneh wae plus foto-foto dari sana..dijamin manstabs..hahahaha,bye cuk
Huaahmmm..nyenyak pool plus ngedan le ngebo eh tidur maksudnya.Pagi ini rencana mau ke Kelurahan Giriharjo(bener ra yo??yoben sek poenting kelurahane Banyumeneng ro Panggang).Sebelum berangkat kesana jam 9an kita sarapan dulu dengan nasi ala kadarnya yaitu nasi digoreng dikasih kecap plus garam (ribet banget mbok wes sebut saja sego goreng).Disana kita nunggu sampai 1jam karena sebenarnya acaranya jam 10an jadi yowes daripada telat.Eniwy pas di lokasi kita disambut sama pak polisi yang jaga disana dan mewanti-wanti kita akan banyak hal termasuk tentang keselamatan dan keamanan di jalan raya.Disana ada yang sangar coy...lurahnya gaulpokoke...kumisen ,serem tapi hatinya humoris bro....Disana kita juga disuguhi makanan ala kadarnya ada ayam,sayur,teh,sop dan tempe(iki pamer po py jeh??).Setelah urusan perkenalan dan lainnya kita langsung pulang deh di gubuk masing-masing coy...hehehehe..Sorenya kita muter-muter ke rumah pak RT dan srawung dengan warga..oke besok lanjut lagi sob..masih banyak hari untuk dicerita
kan.

Sekilas tentang lokasi KKN PPM GK 14


Pedukuhan Banyumeneng adalah sebuah wilayah di kelurahan Giriharjo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis pemerintahan Banyumeneng di bagi menjadi 3 Dusun yaitu Dusun Banyumeneng I, II dan III, tetapi dari segi emosional budaya masyarakat tetap menjadi satu yaitu Dusun Banyumeneng.
Letak Geografis Pedukuhan banyumeneng termasuk desa terpencil daerah perbatasan dengan Kabupaten Bantul, namun sebenarnya daerah ini mempunyai potensi yang sangat bagus dari segi ekonomi dan sosial kemasyarakatannya.
Kali Gedhe (Sumber Mata Air)
Jangan membayangkan sebuah sungai yang besar seperti yang ada di daerah dataran rendah. Kali Gedhe adalah sebuah nama tempat yang terletah di Dusun Banyumeneng III yang merupakan sumber air bawah tanah yang berfungsi untuk kebutuhan minum dan mandi warga masyarakat sekitar. Menurut cerita turun-temurun, nama Banyumeneng diambil dari nama sungai ini. Pada awal mulanya terdapat seorang musafir yang melewati daerah ini. Saat sang musafir beristirahat di bawah pohon, ia melihat segerombolan burung terbang dari kaki bukit yang ada di sebelahnya. Karena penasaran, maka sang musafir kemudian pergi menghampiri asal terbang dari burung-burung tersebut. Sang musafir sampailah ke tempat tersebut dan terkejut karena melihat lubang goa yang berisi air. Sang musafir kemudian mengamati lubang air tersebut dan betapa terkejutnya ia karena tanah yang ia injak tiba-tiba ambles dan ia menyadari bahwa terdapat sumber air yang besar di tempat itu.
Sang musafir kembali ke pemukiman penduduk dan memberitahukan hal tersebut ke penduduk sekitar. Penduduk bersama-sama menyaksikan keberadaan mata air tersebut dan bermusyawarah untuk mengelola sumber air tersebut tersebut.
Pengerukan dilaksanakan dan sampailah ke bagian kaki bukit yag lain. Hal aneh terjadi di ujung galian kaki bukit ini, air meresap ke dalam tanah bebatuan tetapi tidak mengeluarkan bunyi air gemericik. Dari kejadian itulah nama Banyumeneng muncul yaitu dari kata Banyu (air) dan Meneng (diam).
Ada satu versi cerita lagi bahwa Banyumeneng diambil dari istilah meneng (diam) dan Banyu (air) yang artinya “meneng-meneng kok ono banyune” artinya tidak disangka daerah ini ternyata terdapat sumber airnya.

Telaga Waru
Telaga Waru terletak di sebelah ujung timur dusun Banyumeneng II, yang merupakan telaga milik bersama antara Dusun Banyumeneng I, II dan III. Telaga ini berfungsi untuk penampungan air hujan yang dapat digunakan warga masyarakat untuk pengairan tanaman tembakau, bawang merah dan cabe yang ditanam di sekitar telaga tersebut. Selain berfungsi sebagai pengairan tanaman, telaga tersebut berfungsi juga untuk memandikan ternak sapi yang rata-rata dipunyai oleh masing-masing warga di dusun ini.
Pada musim penghujan ini air telaga penuh dan dimanfaatkan warga secara bergiliran untuk menanam benih ikan air tawar berupa ikan nila, lele dumbo, mujaer, ikan mas dan tombro. Pengelolaan perikanan dilakukan secara bergiliran dan dikelola secara baik yaitu dari pemeliharaan pakan, penjagaan serta sangsi kepada masyarakat yang menyalahi aturan misalnya pencurian pemancingan, dan sebagainya.

Musim panen ikan biasanya dilakukan pada saat awal musim kemarau saat air telaga mulai surut. Panen ikan tidak hanya dilakukan oleh warga masyarakat, tetapi dikelola untuk menghasilkan lebih misalnya dilakukan acara lomba mancing untuk masyarakat umum yang biaasanya diumumkan lewat radio lokal. Biaya untuk lomba pancing antara 40-50 ribu rupiah untuk satu hari pelaksanaan. Hasil berupa uang dikirimkan ke kas dusun dan dipakai untuk memperbaiki sarana dan prasarana pedukuhan.
Kelestarian telaga wajib dijaga agar anak-cucu kita dapat terus menikmati manfaat dari telaga ini.